Empat
Katanya, tak semua hal harus aku ketahui. Jadi, haruskah aku menanggung penderitaan karena pertanyaan-pertanyaanku selama ini sampai aku mati? Tidak, aku tidak mau. —Aru Lohia
“Aku pikir, aku tahu siapa pelakunya,” kata Aru.
Mea-Dai bergeming, lalu meneleng kaku. “Kau … tahu?” tanyanya tak percaya.
Mata Aru menyipit. “Jangan pura-pura tidak tahu.” Bisa dia rasakan bahwa tubuh Mea-Dai sedikit bergetar. “Jangan menyembunyikan apa pun dariku.”
“Kau—”
Aru makin menguatkan cengkeramannya. “Jangan berusaha menutupi sebuah kejahatan!” sentaknya.
Mea-Dai tampak sangat syok.
“Apa karena dia Frank, jadi Sina menyembunyikan semua ini? Apa karena dia teman baik Sina?” Aru mendecih. “Bahkan kukira dia selalu baik karena memang begitulah sifatnya. Aku sangat kecewa.”
Mea-Dai melepas cengkeraman Aru dengan hati-hati, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. “Aru, sudah Sina bilang bahwa ini belum waktunya.”
“Tapi—”
Mea-Dai menaruh telunjuknya ke bibir tebal Aru, memintanya berhenti meracau. Dia menggeleng. Mata lebarnya berusaha meyakinkan anak perempuan itu. “Hapus dulu kebencian itu, Nak.”
“Lasi! Kenapa aku harus menghapus kebencianku pada orang yang menghancurkan hidupku?”
Tersenyum lembut, Mea-Dai memegang kedua pundak Aru. “Kebencian pada akhirnya hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”
“Kenapa?”
Mea-Dai menggaruk pipi seraya menatap ke atas. “Sepertinya terlalu banyak cerita hari ini. Kita kembali ke gua dulu, baru Sina akan jelaskan.”
Aru cemberut, sementara Mea-Dai kembali tersenyum, lalu berjalan memimpin di depan.
Mea-Dai menghentikan langkah dan merentangkan salah satu tangan agar Aru juga berhenti. Aru segera merapat di balik punggung ibu angkatnya dan memasang pendengaran dengan baik.
Suara gemeresik kembali terdengar.
“Mundur,” kata Mea-Dai dengan suara sangat pelan. Mereka kemudian melangkah sangat berhati-hati ke belakang.
Aru mulai mengambil kayu dengan ujung runcing yang biasa dia gunakan untuk berburu. Dia mencengkeram kuat kayunya dengan tatapan tajam penuh waspada.
Aru menarik Mea-Dai bertepatan dengan seorang pria yang muncul dari balik semak. Namun, pria itu langsung terjatuh.
Masih terus waspada, Aru mengacungkan kayu runcingnya ke bawah, ke arah pria itu. Dia menahan napas melihat kondisi pria bertubuh sedikit gempal yang tergeletak dengan penuh luka. Bajunya, yang menunjukkan bahwa dia datang dari kota, tercabik-cabik dan dipenuhi darah.
“Apa dia mati?” gumam Aru. Dia mencondongkan kepalanya untuk mengamati lebih dekat.
Aru berjingkat ke belakang karena terkejut.
Pria itu membuka mulutnya, megap-megap.
Aru kembali mengacungkan kayunya untuk berjaga-jaga.
“Go-goan lusim dispela hap ….”[1] Dia berbicara dengan terbata-bata. “No ken … no ken brukim wara!”[2]
Alis tebal Aru seketika naik. Bahasa apa itu? Begitu pikirnya. Namun, dia merasa tak asing. Dia seperti pernah mendengar—atau bahkan mempelajari—bahasa pria itu, tetapi ingatannya begitu samar.
“No-no ken … bru-kim war—” Pria itu tiba-tiba terbatuk dan makin megap-megap. Beberapa detik kemudian napasnya tercekat dan tubuhnya langsung melemas.
Aru kembali berjingkat mundur. Beberapa saat dia menunggu apakah pria itu akan membuka kembali matanya, tetapi tak ada pergerakan apa pun.
“Apa dia mati?” katanya hampir tak bersuara. Dia hendak mendekati pria itu, tetapi Mea-Dai segera menariknya dan mengajak untuk segera pergi.
“No … ken?” Aru berusaha mengeja ulang perkataan pria tadi. “Apa artinya? Sepertinya aku pernah dengar. Apakah Sina mengerti apa yang pria tadi katakan?”
“Tidak.” Mea-Dai berjalan dengan terburu-buru. “Yang jelas, kita harus segera pergi.”
“To[3], bagaimana dengan pria itu?”
“Berhentilah mengurusi orang lain. Ayo, kita harus bergegas. Tempat ini tidak aman. Bisa saja ada manusia lain di sini,” pungkas Mea-Dai seraya menggeret Aru pergi.
Aru beberapa kali menengok ke belakang, ke arah pria yang sudah tak berdaya tadi. Kepalanya terus memutar perkataan pria itu, sambil mengingat-ingat dan mengira-ngira apa arti dari ucapannya.
Kalimat itu seperti sebuah peringatan. Namun, haruskah dia mengikuti peringatan dari orang asing?
—Aku, dan perjalanan menuju kota—
Pagi itu Tama mengajakku pergi ke sebuah tempat yang kami sebut dengan kota. Katanya, orang-orang kota tertarik untuk membeli tembikar dari desa kami dalam jumlah besar. Mulanya kami berjalan dari desa, menaiki bukit, lalu turun menuju sebuah wilayah yang tanahnya lapang sekali. Tempat itu cukup jauh dari desa kami.
Kami pergi beramai-ramai. Tama dan beberapa pria lainnya menggendong tembikar-tembikar yang disusun menggunakan rami di punggung mereka.
Di tanah lapang itu kami beristirahat cukup lama hingga sebuah usungan, yang terbentuk dari besi, berjalan menghampiri kami. Mereka menyebutnya angkutan dan kami semua masuk ke dalamnya, lalu angkutan itu berjalan dengan satu orang yang mengendalikannya.
“Sori tru mi kam bihain.”[4] Begitu kata orang yang mengendalikan angkutan.
“Orait[5],” jawab Tama.
Aku pun bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya mereka ucapkan? Kenapa aku tidak mengerti? Lalu aku menanyakannya pada Tama.
Tama menjawab, “Itu bahasa Tok Pisin. Salah satu bahasa yang menyatukan Papua New Guinea kita.”
Aku hanya mengangguk, walau sebenarnya tak paham apa maksudnya itu.
“Tama akan mengajarimu nanti. Kau harus bisa.”
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...